atashinchi

Wednesday, May 24, 2006

Esok tak selalu datang

Dulu, yang ada di pikiranku tak ada hal yang pasti. Entah apa yang akan terjadi dengan hidupku, asal kalian tahu aku adalah anak muda yang tak punya cita-cita. Yang memandang hidup apa adanya, let it flow following the current. But it doesn’t mean that I have no willing to make something different lho. Keinginan itu ada, bahkan selalu terpikir, hanya saja aku belum sempat terpikir akan berbuat apa. Pemikiran-pemikiran jenius pernah terlintas, tapi hanya selintas. Belum sempat kucatat di memoriku, sudah hilang semua…pergi entah kemana, hmmm….aku yang payah!.
Sekarang saja aku bolos kuliah berhari-hari, padahal tak ada sedikitpun kesibukan yang bisa kubuat menjadi sebuah pembenaran. Wah benar-benar payah!!
Tapi setidaknya aku masih punya keyakinan meski sedikit, aku masih bisa mengejar ketinggalan meski entah kapan, aku yakin dengan hal itu. Nah, itu artinya aku masih punya sedikit semangat hidup dan berkarya. Masalah kapan, itu lain soal.
Keseharian yang menjemukan. Bangun pagi, kuliah, pulang sore, capek, tidur sebentar…tiba-tiba saja malam datang, berkutat sebentar di depan komputer dengan hal yang tidak penting dan banyak waktu berharga yang terbunuh. Niat untuk belajar terlindas rasa kantuk, pada akhirnya semua hanya tinggal niat. Begitu dan begitu lagi.
Padahal aku terkadang merasa begitu tertindas melihat kemajuan orang lain, lalu semangat untuk sebuah perbaikan pun muncul lagi dan membakarku untuk beberapa hari saja. Setelah rasa gelisah itu hilang, gubrak!! Kemalasan selamat datang kembali…
Jika perasaanku mulai resah, maka aku akan selalu dan selalu berpikir, “ok! Mulai besok aku akan lebih serius” begitu pun pada keesokan harinya. Bagiku selalu ada hari esok, meski yang kulakukan pada hari esok adalah hal yang sama dengan hari kemarin juga. Masih banyak waktu, pikirku…
Hingga suatu pagi datang dengan begitu tergesa-gesa memburuku untuk pergi ke kampus. Pagi itu aku terlambat bangun, shalat shubuh pun secepat kilat, entah benar atau tidak itu bacaannya. “wah telat euy, naiknya di holis aja..” pikirku saat di dalam angkot. Sambil jalan, kupikir-pikir lagi barang-barang yang harus kubawa hari itu apakah terbawa, atau ada yang tertinggal. Ketika menyeberang jalan, aku baru ingat ternyata ada sesuatu yang terting......TIDIT!!.............................gal...
Dan semuanya tiba-tiba gelap, tak bersuara, hening....
Tok!tok!tok!
“Ni! bangun Ni, nggak sholat shubuh? Nggak kuliah? Udah jam setengah enam nih...” suara mama yang membangunkan tidurku yang lelap terdengar sayup-sayup menjauh, dan makin jauh meninggalkanku tak bergerak. Akh....beruntung sekali semuanya berakhir dengan suara ketukan pintu di pagi hari pertanda Tuhan masih memperingatiku hanya lewat mimpi. Tapi, apa yang terjadi kalau hal itu sungguh-sungguh terjadi? Kalau saja pagi ini aku tak lagi bisa terbangun.
Mungkin hanya penyesalan yang sangat terlambat untuk menyadari bahwa waktu sungguh-sungguh tak akan pernah kembali. Masa depan tak dapat menunggu. Lakukan sekarang atau menyesal.
Dan ternyata sumber dari segala kebingungan dan kegamangan itu hadir dari diriku sendiri, karena kurang bersyukur, kurang mengingat Tuhan dan lupa berterimakasih....
Akhir seperti apa yang akan menghampiri kita, kita tak akan pernah tahu. Jadi, jangan menunggu hingga esok, karena hari esok tak selamanya datang menghampiri kita. Hidup bukan melulu berharap, tapi bagaimana menjadikan harapan itu nyata dengan usaha.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home