atashinchi

Tuesday, June 26, 2007

いつまでもいい思い出になるよ
Jika ada yang bertanya tentang saya, kadang saya hanya bisa terdiam. Apa yang bisa saya katakan, tak ada yang menarik tentang hidup saya, kecuali mereka yang ada di sekitar saya membuatnya jadi lebih berarti. “someone to called my half”. dari keluarga sampai teman. mereka yang memenuhi emosi saya dengan berbagai warna dan rasa.
Begitu banyak kebuntuan yang dihadapi. Kadang saya tak tahu harus melangkah kemana bahkan tak terpikir apa yang harus dilakukan, ketika pikiran ini menjadi kosong, mereka datang hanya dengan senyum yang menandakan mereka percaya bahwa saya mampu.
Hanya dengan seperti itu saja bisa membuat saya kembali bersemangat dan bangkit meski sulit. Entah kenapa saya jadi merasa bisa melalui segala kesusahan itu. Mungkin itu yang dinamakan kekuatan semangat yang menular. Bukan berlebihan rasanya jika dikatakan “友達が頑張れば私も頑張る!”
Mungkin, ketika bersama mereka rasanya tak ada yang istimewa. Semuanya seperti biasanya, tertawa, mengobrol, berdebat, bahkan kadang bertengkar mulut. Segala sesuatunya terasa normal seperti semestinya. Namun, semuanya terasa istimewa ketika saya tak bersama mereka. Ketika saya sendirian, baru saya rasakan apa yang membuat keberadaan mereka begitu istimewa. Perasaan merindukan suasana khas ketika bersama mereka, perasaan bersemangat meski hidup digerecoki oleh berbagai masalah dan kepenatan, jika bersama-sama rasanya ada masalah pun tidak masalah. Bahkan kesalahpahaman hingga pertengkaran kecil yang terkadang menyelangi pun kini menjadi cerita yang akan membuat saya tersenyum sendiri jika mengingatnya. Dari sana saya juga menyadari bahwa pertemanan juga menularkan ketenangan.
Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari pertemanan. Pelajaran yang tidak saya dapatkan dari sekolah mana pun. Seorang teman pernah berkata bahwa dalam hidup, kegagalan, kecewa, keluh kesah dan ketidakpuasan tentu akan selalu ada. Tapi masih lebih banyak hal yang bisa kita syukuri. Dan lagi bukankah masalah itu adalah hak istimewa yang hanya didapatkan oleh manusia agar ia menjadi orang yang lebih baik di masa depan ?! Ketika hari saya terasa begitu buruk, Dari mereka saya belajar menghargai apa yang ada pada saya, saya belajar memberi dan menerima.
Pertemanan, adalah hubungan erat tanpa syarat. Teman adalah orang yang hatinya dan hati kita saling bertambat. keberadaan mereka ibarat kepingan puzzle yang melengkapi gambar yang membentuk hidup saya, yang mengisi setiap jendela yang ada di hati saya.
Saya mungkin bukan orang yang memiliki kelebihan yang menonjol, bahkan tak banyak orang tahu saya. tapi saya merasa saya adalah orang yang paling beruntung di dunia karena saya punya mereka, mereka yang akan mengingat dan mengenal saya bahkan sampai ketika kami bertemu kembali setelah sekian lama dan menjadi renta. Setidaknya begitulah yang saya pikirkan.
Mereka, membuat ketidaksempurnaan ini jadi terasa menyenangkan. Keberadaan mereka membuat saya merasa ada. Semoga kalian pun merasa demikian.
terima kasih untuk kalian, yang membuat saya jadi istimewa..........

Labels:

Sunday, June 25, 2006

Jika iman ini mulai surut...

Bantu aku Rabb,
menumbuhkan kembali cinta ini padaMu
sentuh rasa takutku dengan peringatanMu
ciutkan nyaliku untuk berpaling dariMu

jika imanku mulai surut,
gentar kaki ini melangkah, limbung dalam keraguan mencari arah
ada kegamangan yang teramat kuat meraja di ruang hati,
tak kurasa senang, tak jua sedih, tidakpun marah..

palingkan aku kembali hanya padaMu
agar semua rasa, semua laku, hanya untukMu
temukan aku dengan kedamaian mencintaiMu
agar aku selalu tenang bahkan disela-sela laraku sekalipun, damai kala kusebut namaMu...

jika iman ini mulai surut...
jangan acuhkan aku Rabb,betulkan langkahku
jangan buat aku tak merasakan kegelisahan kala jauh dariMu
jangan jadikan aku orang yang amat merugi itu..

dan..segalanya jadi tanpa arah...

.....tanpa petunjuk

tanpa cahaya....


jika iman ini mulai surut....
Bunda pergi…

Bunda melihat dan tersenyum,
Bunda melihat, dan merenung…
Ada jejak waktu di tiap gurat wajahnya
Ada cerita dan teladan dalam tiap helai rambut putihnya.

Masih menyirat kebanggaan yang sama dalam tiap lengkung senyumnya
Bahkan di saat terapuhku
Saat tak sanggup berdiriku
Ada semangat dari senyum dan sentuh jemarinya
Ada kekuatan dari tiap kalimatnya menghiburku…

Hanya ketika satu senja saat tatapnya meredup bersama mentari
Di hari ia pergi berpaling dari pandanganku untuk menghilang sedikit demi sedikit
Bunda tersenyum dan berpaling kembali

Kutunggu…
Kutunggu…
Kutunggu…
Kenapa bunda tak kembali?
Last night,..

Last night, I spell Your name in my pray
A single tear drop from my eyes
The memory of all my sin was shown up
How could I be so thankless to you
meanwhile You never stop looking after me

last night, I lay my hands and pray
wishing You could surround all my loving people with love and care
as they do to me...
make their worries fly away just like they flied my burden away whenever I near them
slept them tide with sweet dream

last night,...
I realised there was too much time to waste
Too many chances I had passed
Too many stupid things I did

Forgive me Lord, yet I’m not forgiven
For every mistakes, and every single tear that fallen because of me
Give me a chance to make them proud to have me
As I always feel about them...

Last night,...
I pray, I talk, and I wishing...
Just for nothing but all my amazing people whom surrounding me
With love...
Care...
...and

Comfort....



Thank you,...

Sebuah janji


Detak jarum jam itu membuatku terjaga dalam sebuah perjalanan mundur ke masa lalu. Jika mungkin aku mengejarnya kembali, memintanya sekali lagi untuk tinggal dan habiskan lagi waktu yang pernah habis.
Aku mengkhayalkan untuk mengulanginya lagi. Nyanyian-nyanyian kami, tarian-tarian kami yang kocak dan membuatku larut hingga seperti biasa ia akan menghilang sebentar untuk sekedar menghilangkan beban yang terasa berat membebani pundaknya dengan membuat beberapa batang gulungan benda berbau khas itu jadi abu..
Kadang jika kudapati ia asyik dengan benda itu pernah kutanyakan mengapa, dan ia pun akan menjawab dengan ringannya bahwa, justru karena ia tidak suka dengan benda berasap itu, makanya ia bakar satu persatu sampai habis. dan dengan polosnya akupun hanya akan ber-O panjang. Ketika teringat saat itu, aku jadi tersenyum sendiri, tanpa terasa satu titik air jatuh dari pelupuk mataku, “akh…seandainya bisa kuulang saat itu…”batinku. Mengulangi lagi hari-hari dimana ayahnya akan membuat ceramah panjang khusus untuknya karena kebandelannya yang kulaporkan. Dan seperti yang bersungguh-sungguh ia akan mendengarkan dengan seksama sambil menunduk penuh penyesalan. Lalu setelah selesai maka ia akan balik memarahiku yang pengadu. Tapi pada akhirnya kami akan tertawa lagi.
Selalu ada saat-saat kami memejamkan mata bersama, menunggu sore dan tertawa karena kelucuan-kelucuannya. Aku, kembali tergelak sendiri. Untuk beberapa saat aku meras begitu iri pada diriku yang berusia 5 tahun. Lalu tiba-tiba datang bayangan-bayangan ketika air matanya tak henti mengalir di ruangan yang gelap, kupandangi wajahnya yang samar dan yang terdengar hanya isakan, hatiku miris, sekali lagi air mata menetes dari pelupuk mataku. Tangisan-tangisannya untuk seseorang yang tak pernah kembali hingga saat terakhirnya… ahh, bundaku yang malang. Sejenak amarahku muncul dan menyalahkan dia atas kepergiannya. Hingga adzan shubuh menyadarkanku, dan membawaku kembali pada kenyataan.
“Astaghfirullah…” ujarku lantas terkesiap dari lamunan panjangku. Allah mengingatkanku sebelum aku jauh larut dalam penyesalan yang tak berguna, yang akhirnya mungkin hanya menyisakan dendam yang seharusnya tidak perlu sama sekali, naudzubillahi min dzalik. Lantas dengan segera kuambil air wudhu dan shalat shubuh, lalu memohon ampun pada-Nya atas keegoisanku yang menyesali apa yang telah Ia putuskan. Dan aku berjanji, aku akan mencarinya, mencari bundaku dengan doa dan sujudku pada Rabb-ku. Agar kelak kami bertemu lagi di tempat yang pernah ia ceritakan, tempat terindah bernama surga. Dan aku mengerti, tak pernah mudah untuk pergi kesana…

Wednesday, May 24, 2006

Dia

Bersamanya hati jadi lapang…..
Di dekatnya ketenangan menjalar
Kesedihan yang meriak-riak seketika pudar
Hanya saat-saat bersamanya aku tenang

Dia yang hilangkan gundahku
Dia yang hapuskan cemasku
Dia pula yang terbitkan senyumku
Dia yang bahagiakan hidupku di dekatnya

Hanya ketika bersamanya,
Pagi siang sore dan malamku jadi berarti
Tak ada yang paling kusyukuri selain anugrah mengenalnya
Rabb, terima kasih untuk semua yang kudapati dalam hidupku
Terima kasih atas keberuntunganku mengenalMu…
Esok tak selalu datang

Dulu, yang ada di pikiranku tak ada hal yang pasti. Entah apa yang akan terjadi dengan hidupku, asal kalian tahu aku adalah anak muda yang tak punya cita-cita. Yang memandang hidup apa adanya, let it flow following the current. But it doesn’t mean that I have no willing to make something different lho. Keinginan itu ada, bahkan selalu terpikir, hanya saja aku belum sempat terpikir akan berbuat apa. Pemikiran-pemikiran jenius pernah terlintas, tapi hanya selintas. Belum sempat kucatat di memoriku, sudah hilang semua…pergi entah kemana, hmmm….aku yang payah!.
Sekarang saja aku bolos kuliah berhari-hari, padahal tak ada sedikitpun kesibukan yang bisa kubuat menjadi sebuah pembenaran. Wah benar-benar payah!!
Tapi setidaknya aku masih punya keyakinan meski sedikit, aku masih bisa mengejar ketinggalan meski entah kapan, aku yakin dengan hal itu. Nah, itu artinya aku masih punya sedikit semangat hidup dan berkarya. Masalah kapan, itu lain soal.
Keseharian yang menjemukan. Bangun pagi, kuliah, pulang sore, capek, tidur sebentar…tiba-tiba saja malam datang, berkutat sebentar di depan komputer dengan hal yang tidak penting dan banyak waktu berharga yang terbunuh. Niat untuk belajar terlindas rasa kantuk, pada akhirnya semua hanya tinggal niat. Begitu dan begitu lagi.
Padahal aku terkadang merasa begitu tertindas melihat kemajuan orang lain, lalu semangat untuk sebuah perbaikan pun muncul lagi dan membakarku untuk beberapa hari saja. Setelah rasa gelisah itu hilang, gubrak!! Kemalasan selamat datang kembali…
Jika perasaanku mulai resah, maka aku akan selalu dan selalu berpikir, “ok! Mulai besok aku akan lebih serius” begitu pun pada keesokan harinya. Bagiku selalu ada hari esok, meski yang kulakukan pada hari esok adalah hal yang sama dengan hari kemarin juga. Masih banyak waktu, pikirku…
Hingga suatu pagi datang dengan begitu tergesa-gesa memburuku untuk pergi ke kampus. Pagi itu aku terlambat bangun, shalat shubuh pun secepat kilat, entah benar atau tidak itu bacaannya. “wah telat euy, naiknya di holis aja..” pikirku saat di dalam angkot. Sambil jalan, kupikir-pikir lagi barang-barang yang harus kubawa hari itu apakah terbawa, atau ada yang tertinggal. Ketika menyeberang jalan, aku baru ingat ternyata ada sesuatu yang terting......TIDIT!!.............................gal...
Dan semuanya tiba-tiba gelap, tak bersuara, hening....
Tok!tok!tok!
“Ni! bangun Ni, nggak sholat shubuh? Nggak kuliah? Udah jam setengah enam nih...” suara mama yang membangunkan tidurku yang lelap terdengar sayup-sayup menjauh, dan makin jauh meninggalkanku tak bergerak. Akh....beruntung sekali semuanya berakhir dengan suara ketukan pintu di pagi hari pertanda Tuhan masih memperingatiku hanya lewat mimpi. Tapi, apa yang terjadi kalau hal itu sungguh-sungguh terjadi? Kalau saja pagi ini aku tak lagi bisa terbangun.
Mungkin hanya penyesalan yang sangat terlambat untuk menyadari bahwa waktu sungguh-sungguh tak akan pernah kembali. Masa depan tak dapat menunggu. Lakukan sekarang atau menyesal.
Dan ternyata sumber dari segala kebingungan dan kegamangan itu hadir dari diriku sendiri, karena kurang bersyukur, kurang mengingat Tuhan dan lupa berterimakasih....
Akhir seperti apa yang akan menghampiri kita, kita tak akan pernah tahu. Jadi, jangan menunggu hingga esok, karena hari esok tak selamanya datang menghampiri kita. Hidup bukan melulu berharap, tapi bagaimana menjadikan harapan itu nyata dengan usaha.
Friday night, May 12, 2006
11.52 pm

It’s nearly midnight up here, I don’t know why but I can’t fall asleep. Although both my body and mind were tired almost exhausted, I just can’t close my eyes. Just like usually when dark comes thru the night many thing comes haunting my mind, struggling in my head, worrying, annoying, sometimes could make me crying. It does humanize if we can’t be relieve when we have a sin just done even if it’s not in purpose, moreover if it did. Anyway there is no end if we talk about sin. Who don’t have any.
Well what I’m thinking of tonight is that…..em.. I’m just wondering what if when I wake up tomorrow I found my self in other’s body, may be it will be a big time luck if the live of the body’s owner were match with what I wish to be mine. All I want, all I need, even what I don’t really need will be served for me anytime. Wherever I step on my foot there will be a place of joy that will give me nothing but pleasure. Haha…how naïve isn’t it.
Well once again it just my thought, nothing to be considered. Just a sudden thing pump up on my mind, it is good to have a dream, as wild as you can. The more you have a dream the more you have a hope and that what makes you alive. The thing is that you must be your self to know what you really want, not what you should want. Sometimes we don’t know that we were just following the other. Like what other like, and slowly lose our self. And when we couldn’t reach they have, we well regret our self and have no confidence to be around which is not healthy for the soul.
So I guest I just need to know who I really am. The real me, with my own smile, my own aim, my own way. That would be my main homework, will I be my self or stuck on influence of the other and keep being a follower….

Bandung, herni(20) no way to sleep, hoping a new light for tomorrow. Brighter and shiner.