Sebuah janji
Detak jarum jam itu membuatku terjaga dalam sebuah perjalanan mundur ke masa lalu. Jika mungkin aku mengejarnya kembali, memintanya sekali lagi untuk tinggal dan habiskan lagi waktu yang pernah habis.
Aku mengkhayalkan untuk mengulanginya lagi. Nyanyian-nyanyian kami, tarian-tarian kami yang kocak dan membuatku larut hingga seperti biasa ia akan menghilang sebentar untuk sekedar menghilangkan beban yang terasa berat membebani pundaknya dengan membuat beberapa batang gulungan benda berbau khas itu jadi abu..
Kadang jika kudapati ia asyik dengan benda itu pernah kutanyakan mengapa, dan ia pun akan menjawab dengan ringannya bahwa, justru karena ia tidak suka dengan benda berasap itu, makanya ia bakar satu persatu sampai habis. dan dengan polosnya akupun hanya akan ber-O panjang. Ketika teringat saat itu, aku jadi tersenyum sendiri, tanpa terasa satu titik air jatuh dari pelupuk mataku, “akh…seandainya bisa kuulang saat itu…”batinku. Mengulangi lagi hari-hari dimana ayahnya akan membuat ceramah panjang khusus untuknya karena kebandelannya yang kulaporkan. Dan seperti yang bersungguh-sungguh ia akan mendengarkan dengan seksama sambil menunduk penuh penyesalan. Lalu setelah selesai maka ia akan balik memarahiku yang pengadu. Tapi pada akhirnya kami akan tertawa lagi.
Selalu ada saat-saat kami memejamkan mata bersama, menunggu sore dan tertawa karena kelucuan-kelucuannya. Aku, kembali tergelak sendiri. Untuk beberapa saat aku meras begitu iri pada diriku yang berusia 5 tahun. Lalu tiba-tiba datang bayangan-bayangan ketika air matanya tak henti mengalir di ruangan yang gelap, kupandangi wajahnya yang samar dan yang terdengar hanya isakan, hatiku miris, sekali lagi air mata menetes dari pelupuk mataku. Tangisan-tangisannya untuk seseorang yang tak pernah kembali hingga saat terakhirnya… ahh, bundaku yang malang. Sejenak amarahku muncul dan menyalahkan dia atas kepergiannya. Hingga adzan shubuh menyadarkanku, dan membawaku kembali pada kenyataan.
“Astaghfirullah…” ujarku lantas terkesiap dari lamunan panjangku. Allah mengingatkanku sebelum aku jauh larut dalam penyesalan yang tak berguna, yang akhirnya mungkin hanya menyisakan dendam yang seharusnya tidak perlu sama sekali, naudzubillahi min dzalik. Lantas dengan segera kuambil air wudhu dan shalat shubuh, lalu memohon ampun pada-Nya atas keegoisanku yang menyesali apa yang telah Ia putuskan. Dan aku berjanji, aku akan mencarinya, mencari bundaku dengan doa dan sujudku pada Rabb-ku. Agar kelak kami bertemu lagi di tempat yang pernah ia ceritakan, tempat terindah bernama surga. Dan aku mengerti, tak pernah mudah untuk pergi kesana…
Detak jarum jam itu membuatku terjaga dalam sebuah perjalanan mundur ke masa lalu. Jika mungkin aku mengejarnya kembali, memintanya sekali lagi untuk tinggal dan habiskan lagi waktu yang pernah habis.
Aku mengkhayalkan untuk mengulanginya lagi. Nyanyian-nyanyian kami, tarian-tarian kami yang kocak dan membuatku larut hingga seperti biasa ia akan menghilang sebentar untuk sekedar menghilangkan beban yang terasa berat membebani pundaknya dengan membuat beberapa batang gulungan benda berbau khas itu jadi abu..
Kadang jika kudapati ia asyik dengan benda itu pernah kutanyakan mengapa, dan ia pun akan menjawab dengan ringannya bahwa, justru karena ia tidak suka dengan benda berasap itu, makanya ia bakar satu persatu sampai habis. dan dengan polosnya akupun hanya akan ber-O panjang. Ketika teringat saat itu, aku jadi tersenyum sendiri, tanpa terasa satu titik air jatuh dari pelupuk mataku, “akh…seandainya bisa kuulang saat itu…”batinku. Mengulangi lagi hari-hari dimana ayahnya akan membuat ceramah panjang khusus untuknya karena kebandelannya yang kulaporkan. Dan seperti yang bersungguh-sungguh ia akan mendengarkan dengan seksama sambil menunduk penuh penyesalan. Lalu setelah selesai maka ia akan balik memarahiku yang pengadu. Tapi pada akhirnya kami akan tertawa lagi.
Selalu ada saat-saat kami memejamkan mata bersama, menunggu sore dan tertawa karena kelucuan-kelucuannya. Aku, kembali tergelak sendiri. Untuk beberapa saat aku meras begitu iri pada diriku yang berusia 5 tahun. Lalu tiba-tiba datang bayangan-bayangan ketika air matanya tak henti mengalir di ruangan yang gelap, kupandangi wajahnya yang samar dan yang terdengar hanya isakan, hatiku miris, sekali lagi air mata menetes dari pelupuk mataku. Tangisan-tangisannya untuk seseorang yang tak pernah kembali hingga saat terakhirnya… ahh, bundaku yang malang. Sejenak amarahku muncul dan menyalahkan dia atas kepergiannya. Hingga adzan shubuh menyadarkanku, dan membawaku kembali pada kenyataan.
“Astaghfirullah…” ujarku lantas terkesiap dari lamunan panjangku. Allah mengingatkanku sebelum aku jauh larut dalam penyesalan yang tak berguna, yang akhirnya mungkin hanya menyisakan dendam yang seharusnya tidak perlu sama sekali, naudzubillahi min dzalik. Lantas dengan segera kuambil air wudhu dan shalat shubuh, lalu memohon ampun pada-Nya atas keegoisanku yang menyesali apa yang telah Ia putuskan. Dan aku berjanji, aku akan mencarinya, mencari bundaku dengan doa dan sujudku pada Rabb-ku. Agar kelak kami bertemu lagi di tempat yang pernah ia ceritakan, tempat terindah bernama surga. Dan aku mengerti, tak pernah mudah untuk pergi kesana…

0 Comments:
Post a Comment
<< Home