atashinchi

Sunday, June 25, 2006

Jika iman ini mulai surut...

Bantu aku Rabb,
menumbuhkan kembali cinta ini padaMu
sentuh rasa takutku dengan peringatanMu
ciutkan nyaliku untuk berpaling dariMu

jika imanku mulai surut,
gentar kaki ini melangkah, limbung dalam keraguan mencari arah
ada kegamangan yang teramat kuat meraja di ruang hati,
tak kurasa senang, tak jua sedih, tidakpun marah..

palingkan aku kembali hanya padaMu
agar semua rasa, semua laku, hanya untukMu
temukan aku dengan kedamaian mencintaiMu
agar aku selalu tenang bahkan disela-sela laraku sekalipun, damai kala kusebut namaMu...

jika iman ini mulai surut...
jangan acuhkan aku Rabb,betulkan langkahku
jangan buat aku tak merasakan kegelisahan kala jauh dariMu
jangan jadikan aku orang yang amat merugi itu..

dan..segalanya jadi tanpa arah...

.....tanpa petunjuk

tanpa cahaya....


jika iman ini mulai surut....
Bunda pergi…

Bunda melihat dan tersenyum,
Bunda melihat, dan merenung…
Ada jejak waktu di tiap gurat wajahnya
Ada cerita dan teladan dalam tiap helai rambut putihnya.

Masih menyirat kebanggaan yang sama dalam tiap lengkung senyumnya
Bahkan di saat terapuhku
Saat tak sanggup berdiriku
Ada semangat dari senyum dan sentuh jemarinya
Ada kekuatan dari tiap kalimatnya menghiburku…

Hanya ketika satu senja saat tatapnya meredup bersama mentari
Di hari ia pergi berpaling dari pandanganku untuk menghilang sedikit demi sedikit
Bunda tersenyum dan berpaling kembali

Kutunggu…
Kutunggu…
Kutunggu…
Kenapa bunda tak kembali?
Last night,..

Last night, I spell Your name in my pray
A single tear drop from my eyes
The memory of all my sin was shown up
How could I be so thankless to you
meanwhile You never stop looking after me

last night, I lay my hands and pray
wishing You could surround all my loving people with love and care
as they do to me...
make their worries fly away just like they flied my burden away whenever I near them
slept them tide with sweet dream

last night,...
I realised there was too much time to waste
Too many chances I had passed
Too many stupid things I did

Forgive me Lord, yet I’m not forgiven
For every mistakes, and every single tear that fallen because of me
Give me a chance to make them proud to have me
As I always feel about them...

Last night,...
I pray, I talk, and I wishing...
Just for nothing but all my amazing people whom surrounding me
With love...
Care...
...and

Comfort....



Thank you,...

Sebuah janji


Detak jarum jam itu membuatku terjaga dalam sebuah perjalanan mundur ke masa lalu. Jika mungkin aku mengejarnya kembali, memintanya sekali lagi untuk tinggal dan habiskan lagi waktu yang pernah habis.
Aku mengkhayalkan untuk mengulanginya lagi. Nyanyian-nyanyian kami, tarian-tarian kami yang kocak dan membuatku larut hingga seperti biasa ia akan menghilang sebentar untuk sekedar menghilangkan beban yang terasa berat membebani pundaknya dengan membuat beberapa batang gulungan benda berbau khas itu jadi abu..
Kadang jika kudapati ia asyik dengan benda itu pernah kutanyakan mengapa, dan ia pun akan menjawab dengan ringannya bahwa, justru karena ia tidak suka dengan benda berasap itu, makanya ia bakar satu persatu sampai habis. dan dengan polosnya akupun hanya akan ber-O panjang. Ketika teringat saat itu, aku jadi tersenyum sendiri, tanpa terasa satu titik air jatuh dari pelupuk mataku, “akh…seandainya bisa kuulang saat itu…”batinku. Mengulangi lagi hari-hari dimana ayahnya akan membuat ceramah panjang khusus untuknya karena kebandelannya yang kulaporkan. Dan seperti yang bersungguh-sungguh ia akan mendengarkan dengan seksama sambil menunduk penuh penyesalan. Lalu setelah selesai maka ia akan balik memarahiku yang pengadu. Tapi pada akhirnya kami akan tertawa lagi.
Selalu ada saat-saat kami memejamkan mata bersama, menunggu sore dan tertawa karena kelucuan-kelucuannya. Aku, kembali tergelak sendiri. Untuk beberapa saat aku meras begitu iri pada diriku yang berusia 5 tahun. Lalu tiba-tiba datang bayangan-bayangan ketika air matanya tak henti mengalir di ruangan yang gelap, kupandangi wajahnya yang samar dan yang terdengar hanya isakan, hatiku miris, sekali lagi air mata menetes dari pelupuk mataku. Tangisan-tangisannya untuk seseorang yang tak pernah kembali hingga saat terakhirnya… ahh, bundaku yang malang. Sejenak amarahku muncul dan menyalahkan dia atas kepergiannya. Hingga adzan shubuh menyadarkanku, dan membawaku kembali pada kenyataan.
“Astaghfirullah…” ujarku lantas terkesiap dari lamunan panjangku. Allah mengingatkanku sebelum aku jauh larut dalam penyesalan yang tak berguna, yang akhirnya mungkin hanya menyisakan dendam yang seharusnya tidak perlu sama sekali, naudzubillahi min dzalik. Lantas dengan segera kuambil air wudhu dan shalat shubuh, lalu memohon ampun pada-Nya atas keegoisanku yang menyesali apa yang telah Ia putuskan. Dan aku berjanji, aku akan mencarinya, mencari bundaku dengan doa dan sujudku pada Rabb-ku. Agar kelak kami bertemu lagi di tempat yang pernah ia ceritakan, tempat terindah bernama surga. Dan aku mengerti, tak pernah mudah untuk pergi kesana…